Sabtu, 28 November 2015
Jadi Juara: Cerita Dibalik Tugas Kuliah Menyusun Business Plan
"wih apa nih?" ungkapku dalam hati ketika melihat poster lomba business plan di Universitas Muhammadiyah Semarang.
saya memang semangat untuk mengikuti ajang kompetisi, karena saya mempunyai banyak mimpi untuk jadi juara. ya itu lah motivasiku.
setelah melihat poster itu, saya langsung menghubungi panitianya, dan ternyata saya diperbolehkan untuk mengikutinya, "huuh seneng baget" ungkapku, karena kebetulan sebelumnya ada tugas kuliah yang mengharuskan membuat bisnis plan, jadi saya masih ada bayangan dan tinggal ngedit dikit selesai.
tapi, sebelum saya kirim proposal saya, saya sempat berunding dulu dengan rekan saya Muji, setelah membujuknya akhirnya dia mau untuk gabung. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikutinya dan langsung mengedit sekuruh proposalnya, karena waktunya H-7.
dan Tips dalam menyusun proposalnya adalah:
1. Siapkan ide yang original dan bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk sosial
2. Fokus pada bisnis plan anda, jangan membahas fokus yang lain, dan jangan buru-buru
3. buat reviewer yakin dengan proposal anda, caranya buat sistematika yang jelas banget. Mulai dari gambaran umum usaha, analisis segmentasi pasar, analisis promosi, analisis kelayakan usaha, analisis BEP, analisis SWOT, metode pelaksanaan dan pastinya juga ada sample berupa produk yang harus dibuat (untuk meyakinkan, klo usahanya jasa lebih baik pakai dokumentasi)
4. Berdoa dan sedekah
yah itulah tips yangbisa saya bagikan. saya yakin kalian punya ide yang beik sehingga proposal bisnis anda lolos. semangaaat...
oh ia, alhamdulillah juga kekita saya mengirimkan proposalnya dan satu minggu kemudian....
seneng banget karena ini adalah yang pertama. tapi setelah itu.. banyak tantangan yang kami hadapi. kami harus selalu semangat dengan seluruh tantangan itu. ketika kami diberitahu oleh panitia untuk presentasi dan membawa produknya ini adalah hal yang sedikit horor bagi saya, karena belum kebayang sebelumnya kalau suruh bawa produknya? "inikan baru plan, koq harus bawa produk?" kataku dalam hati.
tapi setelah meminta saran kepada Dosen pembimbing Pa Teguh, beliau selalu memberikan semangat kepada kami untuk tidak menyerah. sempat saya bilang ke Muji kalau saya mundur saja, tapi Muji selalu menyemangatiku, dia bilang "faj, kita udah berusaha lho, percuma kita udah mondar-mandir sana-sini, lebih baik kita coba dulu aja deh". hanya diam yang saya balas, karena saya masihb ingung, tapi saya putuskan untuk melanjutkannya. karena benar kata Pa Teguh dan Muji, kita harus mencobanya dulu.
Waktu itu produk kami berupa bakso yang berisikan cabai di dalamnya, sehingga proposal kami pun kami bei nama "BOM Bakso". ya setelah mondar-mandir sana-sini akhirnya Allah SWT memberi kami jalan keluar. kami bekerja sama dengan salah satu UKM bakso di ngesrep namanya Bakso Bola Dunia. kami meminta kepada pedagang bakso tersebut untuk bekerja sama, maklum kami masih pemula. untungnya beliau menyutujuinya. tak lama kemudian H-1 semua sudah siap. tapi, lagi-lagi ada tantangan yang menghampiri kami, yaitu kesiapan mental. kami harus terpaksa mengorbankan kuliah kami (sehingga alhirnya kami kena kompensasi), keduan kami harus kesana-kemari untuk mencari perlatan yang akan digunakan besok, dan yang ketiga parahnya lagi kami belum bikin kuah nya, berbekal pengalaman mampir di bakso mercon deket dengan tempat lomba, akhirnya H-2 jam kami mampir dan meminta untuk dibuatkan kuah dan cara pembuatannya, beruntung mereka menerima kami, akhirnya kami bisa membawa kuah tersebut.
Sesampainya di tempat lomba, hanya kami yang tim yang berasal dari luar, kami dari politeknik Negeri Semarang, sedangkan yang lainnya dari Universitas Muhammadoyah Sematrang. tapi hal ini tidak menyurutkan semangat kami, berbekal keberanian dan semangat akhirnya kami berhasil menjadi Juara I pada ajang kompetisi ini.
semoga bermanfaat dan bisa memotivasi kalian semua, Aamiin.
(dari kiri: Muji, tengah: Fajri; dan terakhir dari Unimus)
Pilih Mana ? Jadi Mawapres atau Duta Kampus ?
Siapa sih yang ga mau jadi mawapres?
dan siapa juga sih yang ga mau jadi duta kampus?
ya, bagi mereka yang memiliki semangat yang besar pasti menginginkan
menjadi mawapres dan duta kampus. namun tahukah anda, ajang pemilihian
mawapres dan duta kampus ini dinilai tidak imbang. kenapa ? hal ini
dikarenakan ajang pemilihan duta kampus lebih tersohor dibandingkan
dengan mawapres, Ajang Mawapres (Mahasiswa Berprestasi) dan Duta Kampus
bukanlah dua hal
yang bertentangan, namun dalam kesempatan kali ini saya sedikit
memberikan respon terhadap penyelenggaraan kedua even ini dan bagaimana
efek yang ditimbulkan setelahnya di kampus kita.
Penyelenggaraan yang dilakukan selama ini terkesan timpang dalam beberapa segi.
sebenarnya dalam hal ini saya sudah pernah mengikuiti ajang pencarian
duta kampus, namun untuk ajang pemilihan mawapres, InsyaAllah semester V
saya akan mencobanya. Aamiin.
Ajang Mawapres diberitakan melalui selebaran berukuran A4 yang
ditempelkan di fakultas-fakultas. Terkesan tidak menarik dengan ukuran
tulisan standar makalah, TNR 12. Berwarna putih terkadang pink atau
kuning.
Sedangkan, ajang Duta Kampus memiliki baliho ukuran +-4x2,5
meter, lengkap dengan gambar yang menarik. Tidak mengherankan jika
mahasiswa lebih mengetahui informasi seputar duta kampus daripada
Mahasiswa Beprestasi. Penjaringan yang dilakukan pun tidak merata.
Peserta mahasiswa Berprestasi di tiap fakultas saban tahunnya bisa
dihitung jari dan itu-itu saja.
sedangkan jika kita lihat ajang pemilihan duta kampus... wih keren
banget, pesertanya saja yang daftar lebih dari 120 mahasiswa, dan dengan
fasilitas yang lebih dari ajang pemilihan mawapres, tempatnya pun di
Gedung Perdamaian Kota Semarang, sebuah tempat yang bernuansa hangat di
tengah kota semarang.
hanya sekedar kritik:
entah apa yang terjadi di bangsa ini, memang betul kata orang-orang,
"kalau orang pinter di Indonesia itu kurang diperhatikan, berbeda dengan
negara-negara lain"
yah itu adalah sepenggal kata-kata yang saya dengar dari orang-orang.
tapi walaupun begitu kita harus menghargai realita, dan semoga bangsa
ini menjadi lebih baik lagi dan menjadikan kedua realita ini sebagai
referensi dalam menindaklanjuti acara serupa ditahun-tahun berikutnya.














