“Pa Sam, kalau Polines seleksi buat MTQ kapan Pa?”
“wah coba tanya Pa Sholeh aja mas” ungkap respon beliau.
Sengaja aku tanyakan hal ini karena aku semangat sekali untuk
mengikuti lomba MTQMN, bagaimana tidak MTQMN merupakan ajang bergengsi
bagi seluruh mahasiswa muslim di Indonesia, dan kalau bisa jadi juara
satu nasional bakal didelegaii buat ngewakilin Indonesia ditingkat ASEAN
bahkan Internasional lho, keren kan.
2 minggu kemudian…
“Pa gimana ya koq belum ada informasi MTQ juga”
“oh gitu, coba tunggu aja mas, biasanya ada”
Beberapa hari setelah aku menanyakan ini, ternyata belum ada kabar
juga. Padahal batas waktu pendaftaran MTQ tingkat nasioanal bagi
perguruan tinggi hanya tersisa beberapa hari lagi, tapi aku positif aja
bakal ada seleksi di Polines. Sembari nuggu, aku mempersiapkan bahan dan
materi untuk karya tulis ilmiah alquran ku nanti, sengaja aku
menyiapkannya karena aku tertarik untuk memilih cabang ini. pucuk
dicinta ulam pun tiba. Akhirnya seleksi dibuka juga. Pada saat seleksi
aku memilih dua cabag perlombaan dari total 14 cabang lomba, aku pilih
cabang MKTIA (karya tulis ilmiah alquran) dan HQ01 (Hifdzil quran 1
juz). Aku merupakan mahasiswa yang suka menulis, walaupun belum sehebat
para penulis. Tapi aku yakin akan bisa jadi penulis hebat suatu hari
nanti.
H-7 aku melihat jumlah pendaftar karya tulis ternyata baru beberapa
tim yang menjadi pesaingku nanti, kau pikir ini cukup berat melihat
pesaingku adalah seniorku, tapi aku tetap semangat untuk bisa menyaingi
mereka. Sembari menunggu aku terus memantau siapa saja yang menjadi
pesaingku (udah kaya CCTV aja, hahaha). H-1 pendaftaran ternyata jummlah
pesaingku bertambah, tapi lagi-lagi tak mengurangi semangatku untuk
berkompetisi. Dan tepat hari H (sabtu dan ahad) dimana awal sejarah MTQ
bagiku dimulai.
Sebelumny, aku telah menyiapkan diri untuk menghadapi seleksi. Pada
saat technical meeting aku mendapat urutan no 3 untuk cabang HQ01 dan no
5 untuk cabang MKTIA. Aku sempat bingung karena keduan cabang yang aku
ikuti semuanya jatuh hari sabtu, sempat grogi sih tapi lagi-lagi aku
selalu menemangati diriku dengan membaca sms dari ayahandaku “ia fad,
mama mimi Cuma bisa doaaken semoga afad jadi juara” aku selalu mencoba
menjadi yang terbaik untuk kedua orang tuaku.
Malam harinya, aku mempersiapkan diri dengan sistem SKS atau biasaya
sih sistem kebut semalam. Aku memuroja’ah kembali hafalanku setelah itu
aku latihal oral presentation di depan temanku, nurul. Sesekali aku
meminta dia untuk mengoreksi dan memberiku pertanyaan dari hasil
presentasiku.
“gimana nurul, presentasiku”
“kamu terlalu cepet faj, ngomongnya”
“masa, padahal ini udah aku maksimalin 10 menit”
Emang sih, aku juga merasa kalau cara ngomong dan presentasiku ga
beda cepentnya. Selain aku latihan presentasi di depan temanku, aku juga
pernah presentasi di depan cermin dengan memgang handphone yang udah di
timer 10 menit sebagai mik nya, dan sesekali aku juga merekam suaraku
sendiri (udah kaya mau karaukean, tapi suaraku bagus juga ya hahaha),
aku terus beusaha dan bener-bener SKS banget, so jangan ditiru ya sistem
SKSnya karena percaya deh kamu bakal ngantuk pagi harinya.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba juga, setelah nuggu hampir satu bulan tak kunjung datang.
Pukul 09:00 cabang HQ01 dimulai, aku memperhatikan semua peserta yang
tampil, ternyata hanya aku yang memilih juz 30, sementara yang lain juz
1. (kalo aku sih cari yang aman, haha) karena juz 30 sudah sempet
hafal, jadi tinggal muroja’ah aja.
Saat MC memanggilku aku deg-degan banget udah kaya mau ijab qabul
aja, soalnya pas aku tampil ada yang salah jadi aku ngulang lagi. Dan
saat maju, salah satu dewan hakim (juri) keluar untuk mengagkat telepon,
dan seleksi tetap berjalan walaupun aku diuji oleh 2 dewan hakim
(aslinya sih 3, tapi gapapa lah). Saat seleski akau mendapat serangan
soal dari para dewan hakim, diantaranya
“lanjutkan ayat berikut…”
“bacakan surat sebelum Al-‘Alaq”
“bacakan surat ‘Abasa”, dan lain-lain.
Tapi, alhamdulillah aku bisa jawab dan ga terlalu susah (tapi tetep
aku ga ngeremehin). Dan akhirnya lega banget rasanya setelah sudah
tampil. Tapi, diakhir acara sebelum penutupan cabang HQ01, aku dipanggil
oleh Pa Sholeh (salah satu dewan hakim yang tadi ngangkat telepon)
“Fajri, siniz” sambil melambaikan tangannya
“ia Pa, ada apa?”
Ternyata, aku di uji lagi. Hah?… (kaget lho aku, ternyata masih ada?)
“tadikan saya ngangkat telepon dan belum nguji hafalan kamu”, Ia juga sih, tapi gimana lagi udah aturannya, akhirnya aku maju.
“tolong bacakan surat……..”
“tolong bacakan surat yang artinya …..”
hah? Apa ya, aku belum sempet belajar terjemahnya lagi, (buat kalian
yang mau ikut lomba Hifdzil Quran jangan lupa plajari maknanya juga ya,
jangan kaya aku jadi minus nilainya)
aku bener-bener ga tau, dan akhirnya aku mengeluarkan jurusku
“maaf Pa, saya belum belajar terjemahnya”,
“kalau begitu, lanjutkan ayat berikut….”
“bacakan ayat yang terdapat saktah….”
Alhamsulillah lancar, walaupun ada beberapa soal yang tidak bisa aku jawab. Dan akhirnya selesai juga.
Sebelum penutupan ternyata masih ada lagi? Hah…
Eits yang ini ternyata komentar dari para dewan hakim untuk semua
peserta (huft lega, aku pikir disuruh maju lagi), ternyata ada komentar
dan masukan dari dewan hakim yang membuatku wajahku mereka dengan manis,
haha
“kalau mas yang ini (menunjuk diriku) bagus ya, bacaannya bagus,
tajwidnya bagus, tinggal dilancarin dikit lagi, oh ia mas sekali-kali
jadi imam disini ya” (aku hanya tersenyum bingung, aku malu aj jadi imam
di masjid kampus, karena bacaanku masih belum bagus)
Komentar tersebut membuatku yakin kalau aku bakal jadi juaranya, hahaha kepede-an.
Tapi, belum selesai tugasku.
Pukul 11:45 setelah cabang HQ01 selesai, aku harus berlari ke kedai
fotocopyan (aku masih inget nama kedainya Q-Blat haha, sory sebut merek.
Mudah-mudahan ramai pengunjung) untuk menggandakan karya tulisku.
Setelah itu aku sholat, seusai sholat aku langsung makan (udah laper
banget).
Setelah perut kenyang, aku langsung mempersiapkan diri untuk
presentasi. Waktu itu, aku memakai baju koko putih celana hitam dengan
kaos kaki hitam, saat dipanggil aku langsung beridir dengan PD-nya
karena peserta yang laki-lakinya cuma aku dan mas bangkit. Tapi bedanya
kalau aku sendiri kalo mas bangkit berdua karena tim. (yah malah curhat
hahaha).
Saat presentasi aku berbeda dengan yang lain, soalnya aku
satu-satunya peserta yang tidak beregu, yang lain berdu tapi aku sendiri
(maklum jobmlo hahaha, curhat lagi). Aku memulai presentasiku dengan
bismillah, “Bismillahirrohmaanirrohiim, Asaalamualaikum warohmatullahi
wabarokatuh, dewan hakim dan hadirin yangg saya hormati perkenalkan saya
…….” Kurang lebih seperti itu muqaddimah yang aku sampaikan. Saat
presentasi pun banyak puluhan pasang mata yang memandangiku, tapi aku
tak menghiraukannya walaupun ada diantara puluhan mata itu yang berkilau
indah (duh curhat lagi, karena memang ada seseorang yang hmm). Setelah
presentasi selesai, dewan hakim dengan semangatnya melontarkan
pertanyaan kepadaku, tapi tenang pikirku. Aku sudah menyiapkan bebreapa
prediksi pertanyaan dan jawaban yang mungkin akan ditanyakan oleh dewan
hakim. Tapi aku salah, dari ke lima pertanyaan yang dilontarkan hanya
satu yang sesuai prediksi, tapi gapapa lah yang penting udah bisa
menjawab dengan baik (dari pada ga satu pun yang keluar). An beruntung
dari seluruh pertanyaan aku sudah merasa cukup bisa dalam menjawabnya.
Oh ia temen-temen sebenarnya dewan hakim atau juri itu tidak menguji
kita lho, mereka hanya mengklarifikasi agar karya kita semakin cakep, so
buat kalian yang takut kalo ga bisa jawab tinggal jujur aja. Dan bener
ada pertanyaan yang memang di luar jangkauanku,
“tadi pemakalah kan sudah katakan bahwa, salah satu kelebihan program
MCDP ini adalah mampu menigkatkan hubungan dengan sesama manusia dan
dengan Allah SWT, coba sebut dan jelaskan ayat yang menjelaskan tentang
menjaga hubungan dengan sesama manusia dan dengan Allah SWT”. Hah? Aku
ga belajar yang ini, tapi dengan gugupnya aku menjawab.
“hmm, mohon maaf Bapak, salah satu kealpaan saya dalam menjawab
pertanyaan dari Bapak”. Aku Cuma bisa jawab itu, karena bener-bener aku
tidak tahu dan belum belajar lebih, setelah selesai presentasi aku
langsung mencoba mencari jawaban yang masih belum aku jawab, dan
ternyata jawabannya adalah terdapat dalam Q.S Ali Imran ayat 112-113.
Finally, saya berkesempatan menjadi Kafilah MTQMN di Universitas Indonesia bersama para pecinta Al-Quran dari Polines.







0 komentar:
Posting Komentar